Friday, October 25, 2013

Wabah Virus Flu Spanyol 1918 Mampu Membunuh Jutaan Manusia


Pandemik flu 1918 (biasanya disebut flu Spanyol) adalah pandemik influenza kategori 5 yang mulai menyebar di Amerika Serikat, muncul di Afrika Barat dan Perancis, lalu menyebar hampir ke seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Influenza A subtipe H1N1. Kebanyakan korban flu ini adalah dewasa muda. Flu Spanyol terjadi dari Maret 1918 sampai Juni 1920,[1] menyebar sampai ke Arktik dan kepulauan Pasifik. Diperkirakan 50 sampai 100 juta orang di seluruh dunia meninggal.


Tidak seorang pun tahu pasti kapan atau di mana flu Spanyol muncul, meskipun flu ini tentu saja bukan dari Spanyol.  Sebenarnya penyakit ini sudah menyebar pada kedua kubu di Eropa, membunuh seluruh divisi tentara sepanjang musim semi dan awal musim panas. Kemudian flu ini tampaknya mereda. Meski demikian, pada akhir musim panas, flu Spanyol kembali, dan keganasannya jelas.

Penderita berbaring di ranjang disertai demam, sakit kepala menusuk, dan sakit pada tulang-tulang sendi. Kebanyakan penderita orang dewasa yang masih muda, sama seperti kelompok yang biasanya tidak menghiraukan flu.




 
Flu Spanyol: 60% penduduk tertular

1917, memasuki tahun ketiga berlangsungnya Perang Dunia I, negara perjanjian dan negara sekutu sedang gencar-gencarnya berperang, yang membuat kedua belah pihak gencatan senjata justru adalah perang tak terlihat antara manusia dengan virus wabah flu.

Catatan paling awal menyatakan pagi 18 Maret 1918, tukang masak suatu satuan tentara AS yang sedang bergerak menuju medan perang di Eropa mendadak merasa sakit kepala, panas, sakit tenggorokan, dan ngilu pada otot, dokter militer beranggapan bahwa ia hanya menderita demam biasa sehingga tidak memperhatikannya. Bahkan setelah beberapa hari kemudian, setelah penyakit itu menjangkiti lebih dari 500 orang, pasukan AS tetap menjalankan rencananya menuju Eropa.

Pendaratan pertama Pasukan AS adalah Spanyol. Hanya dalam waktu singkat yakni 1 bulan, 8 juta penduduk Spanyol atau sekitar 1/3 dari total populasinya telah terjangkit wabah flu. Pemerintah menutup semua kantor, lalu lintas pun terhenti, pusat perdagangan menghentikan usaha, seluruh kota lumpuh total, bahkan raja Spanyol pun meninggal dunia akibat virus ini.

Flu dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, hanya Perancis yang menderita korban meninggal paling sedikit yakni 400 ribu orang.  Pendaratan pertama Pasukan AS adalah Spanyol. Hanya dalam waktu singkat yakni 1 bulan, 8 juta penduduk Spanyol atau sekitar 1/3 dari total populasinya telah terjangkit wabah flu. Pemerintah menutup semua kantor, lalu lintas pun terhenti, pusat perdagangan menghentikan usaha, seluruh kota lumpuh total, bahkan raja Spanyol pun meninggal dunia akibat virus ini.

Flu dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, hanya Perancis yang menderita korban meninggal paling sedikit yakni 400 ribu orang.

Penderita mengalami panas yang tidak bisa turun, mereka bernafas dengan susah payah karena kekurangan oksigen, sejumlah orang mati karena gangguan pernafasan, dari hidung dan mulut mereka keluar busa yang berbau darah. Saat itulah orang-orang baru menyadari: wabah flu mematikan telah tiba.

Wabah flu tersebut secara sederhana dapat dibagi menjadi 3 gelombang: musim semi 1918 adalah gelombang pertama, yang pada dasarnya hanyalah wabah flu biasa.

Musim gugur 1918 adalah gelombang kedua dengan angka kematian tertinggi. Sedangkan gelombang ketiga terjadi pada musim dingin 1919 sampai musim semi tahun berikutnya, dengan angka kematian berkisar antara gelombang pertama dan kedua.

Sepanjang 1918, seiring dengan jalur pelayaran perdagangan, virus pun dibawa hingga ke seluruh dunia, menyebar ke seluruh dataran Amerika Utara, Eropa, Asia, Brasil dan Pasifik Selatan, dan membawa dampak mematikan yang amat parah, di antaranya tingkat kematian di India paling tinggi, yakni setiap 100 orang yang terjangkit 5 orang di antaranya mati akibat wabah flu.

Seorang wanita Australia mengenang, setiap 7 menit di depan rumahnya lewat rombongan yang mengantar jenazah, ujung dan pangkal setiap rombongan hampir selalu beriringan, perasaannya waktu itu sungguh sulit dilukiskan.

Di kota Rio De Janeiro, Brasil, seorang pria yang sempat bertanya tempat pemberhentian bus yang terakhir, saat menunggu bus ia tiba-tiba terjatuh dan meninggal dunia. Enam orang meninggal di dalam sebuah trem di Cape Town, Afrika Selatan, yang hanya berjalan sejauh 3 kilometer.

Di New York 4 orang yang bermain kartu hingga larut malam, keesokan harinya 3 orang di antaranya telah jatuh sakit. Di Chicago seorang buruh yang begitu takutnya berteriak, “Biarkan aku melindungi keluargaku dengan caraku sendiri” lalu menggorok tenggorokan 5 orang anggota keluarganya.

Lemahkan Kekebalan Tubuh
Tidak diragukan memang flu, tetapi dengan perbedaan sangat penting yang baru mulai dipahami para ilmuwan. Bertebaran di seberang meja Taubenberger balok-balok lilin bening seukuran kotak korek api.


Tetapi membandingkan urutan genetika virus tahun 1918 dengan virus-virus flu yang menimbulkan malapetaka ringan setiap musim dingin, telah membuktikan apa yang telah lama dicurigai: Virus flu Spanyol belum lama berselang telah menjangkiti manusia dari beberapa hewan tak dikenal, membuat para korban memiliki kekebalan tubuh rendah terhadap ancaman baru ini.

Untungnya, Juni 2010, sekelompok peneliti dari Mount Sinai School of Medicine, Amerika Serikat melaporkan bahwa vaksin yang diberikan untuk meredakan pandemik flu tahun 2009 mampu menyediakan perlindungan terhadap virus flu 1918.

Kombinasi flu babi dan flu burung?


Untuk menjaga agar wabah flu yang mematikan ini tidak kembali merebak, pada era 80-an di abad ke–20 para ilmuwan mulai lagi mencari penyebab virus Spanyol, dua kelompok ilmuwan di antara-nya menunjukkan hasil kerja yang gemilang. Salah satu tim peneliti tersebut dikepalai oleh Profesor J. Taubenberger dari pusat riset kesehatan angkatan laut AS, dan tim kedua dipimpin oleh Profesor Christy yang merupakan tokoh senior dunia yang ahli dalam flu.

Ketika mencari data di pusat riset Profesor Taubenberger secara tidak sengaja melihat irisan dari tubuh korban yang meninggal akibat wabah Flu Spanyol. Ia menggunakan metode ilmu genetika untuk menggandakan susunan genetik virus tersebut, lalu dilakukan perbandingan dengan virus flu lainnya, makalahnya diterbitkan di majalah Science AS pada 1997.

Kemudian dengan dibantu oleh pakar patologi, John Hardin, mereka berhasil menemukan seonggok mayat yang telah lama tertimbun di dalam tanah di Alaska, paru – paru dari mayat tersebut digunakan untuk dijadikan sebagai spesimen. Mereka berpendapat bahwa virus flu pada 1918 sangat mirip dengan virus flu babi, yang merupakan sejenis virus yang erat hubungannya dengan virus H1N1 tipe-A.

Sementara tim Christy berhasil menemukan mayat yang tertimbun di dalam lapisan tanah membeku yang tingkat pembusukannya lebih rendah. Setelah meneliti struktur lentur dari mayat tersebut, mereka menyimpulkan bahwa virus flu yang membunuh orang tersebut adalah virus flu burung, ia bahkan langsung menyimpulkan wabah flu yang membunuh manusia pada 1918 ditularkan oleh unggas atau burung pada manusia.

Karena kurangnya contoh virus flu dari periode 1918 – 1939 dan periode sebelum 1918, para ilmuwan sulit menyimpulkan dari manakah asalnya virus flu 1918 itu, namun tidak sedikit orang yang percaya bahwa virus flu ini menumpang hidup pada hewan unggas, lalu ditularkan oleh unggas pada manusia, kemudian manusia menularkannya lagi pada babi, setelah lama menetap pada tubuh babi, virus mengalami mutasi genetik, sehingga menyebabkan penularan timbal balik antara manusia dan babi, penularan berkali–kali, kemudian pada tubuh manusia berkembang lagi menjadi virus jenis baru yang dapat menular antara sesama manusia.

Kombinasi baru antara flu babi, flu burung, dan flu manusia, seolah-olah memberi sinyal bahwa wabah flu kali ini mungkin sekali merupakan ‘flu menular Spanyol’ yang kedua.

Hingga saat ini bagaimana perkembangan ke depan wabah flu dari Meksiko ini, masih dalam tahap pengamatan manusia. Sejak dua tahun yang lalu majalah kedokteran terkenal Lanset telah memprediksikan keadaan manusia sekarang ini dengan mengatakan: Jika sekarang merebak wabah flu yang sifatnya global, maka dalam tempo 1 tahun jumlah manusia yang meninggal dunia akan mencapai 62 juta jiwa. Semoga peringatan ini tidak akan berubah menjadi kenyataan, namun keadaan wabah saat ini memang sangat mengawatirkan.

Sumber, Foto dan Referensi Wikipedia, National Geographic Indonesia, mysteriousuniverse.org

No comments:

Post a Comment

blognetwork