Monday, June 13, 2011

Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur

Dayak Kenyah ( foto by eko )
Mentarang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malinau yang mempunyai kawasan hutan primer dan sekunder tua terbesar yang masih tersisa di Kawasan Asia Tenggara. Pada Tahun 1980 Mentri Pertanian Indonesia menetapkan kawasan hutan tersebut menjadi salah satu Cagar Alam Taman Nasional Kayan Mentarang.

Nama Mentarang sendiri diambil dari dua nama sungai penting di wilayah tersebut, yaitu sungai Mentarang di utara dan sungai Kayan di selatan. Kawasan Taman Nasional ini terletak pada ketinggian ± 200 meter sampai sekitar ±2.500 m di atas permukaan laut. Banyak keaneka ragaman hayati yang bisa kita temukan di kawasan ini. Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang terdiri dari lembah-lembah, gugusan pegunungan terjal, serta dataran tinggi pegunungan.

Kawasan Taman Nasional ( Foto by Eko )
Di kawasan Taman Nasional ini, kita juga dapat menemukan banyak ke aneka ragaman hayati dan ke aneka ragaman budaya. Sebagai contoh ke aneka ragaman hayati yang bisa kita temui hutan lumut, hutan rawa, hutan pegunungan tingkat tengah dan tinggi ( diatas 1000 m di atas permukaan laut ). Jenis Flora yang ada diantaranya ± 500 jenis anggrek dan sedikitnya ± 25 jenis Rotan. selain itu, telah di inventaris  277 jenis burung termasuk 11 jenis baru untuk wilayah Kalimantan dan Indonesia, dan 12 diantaranya hampir punah.

Sungai Kayan ( Foto by Eko )
Ke aneka ragaman Budaya juga bisa kita temui di Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Ke aneka ragaman budaya merupakan warisan budaya yang benilai tinggi untuk di lestarikan. Sekitar 21000 orang dari bermacam etnik yang di kenal sebagai suku dayak, terdapat di kawasan Taman Nasional ini. Suku - suku dayak yang bermukim di daerah ini bermacam-macam diantaranya Dayak Punan, Dayak Kenyah, Dayak Kayan, Dayak Lundayeh, dan Dayak Tagel. Masyarakat Dayak tersebut masih sangat bergantung pada pemanfaatan hutan sebagai sumber penghidupan. Pada dasarnya masyarakat masyarakat mengelola sumber daya alam masih secara tradisional. (eko)

No comments:

Post a Comment

blognetwork

There was an error in this gadget